Laporan Wartawan Tribunnews.com, Willy Widianto
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penambangan ilegal atau ilegal mining menjadi persoalan klasik yang hingga kini tak kunjung henti.
Dampaknya, produksi dari perusahaan pertambangan menjadi tidak optimal, lingkungan sekitar area eksplorasi pun jadi rusak.
Menyikapi hal itu, Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk (TINS), Abdullah Umar Baswedan menyebut bahwa perseroan bakal mengejar produksi tambang bijih timah di laut ketimbang darat.
Baca juga: Usai Merugi, PT Timah Bukukan Laba Rp 612 Miliar pada Kuartal III 2021
"Permasalahannya masih klasik soal ilegal mining. Realisasi produksi di laut jauh lebih tinggi. Sekarang 56 persen laut 44 persen darat biasanya darat lebih tinggi," ujar Abdullah saat berbincang dengan wartawan di Jakarta, Kamis (11/11/2021).
Menurut Abdullah, perseroan menargetkan hingga akhir tahun bisa menambang 30.000 ton bijih timah.
"Produksi kita secara akumulasi ditargetkan akhir tahun 24.000 ton hingga 30.000 ton," kata Abdullah.
Saat ini realisasi produksi bijih timah hingga September 2021 turun 48 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu di sembilan bulan pertama atau hanya mencapai 17.929 ton.
Pada bulan yang sama tahun 2020 produksi bijih timah mencapai 34.614 ton dimana sebesar 44 persen berasal dari penambangan darat dan 56 persen berasal dari penambangan laut.
Baca juga: Detik-detik Penambang Timah Tewas Diterkam Buaya di Bangka, 2 Temannya Tak Kuasa Menolong Korban
Berbanding lurus dengan produksi bijih timah, produksi logam timah juga mengalami penurunan 49 persen atau sekitar 19.120 metrik.
Tahun lalu di bulan yang sama yakni September produksi bijih timah mencapai 37.588 metrik ton.
Penjualan logam timah pada September 2021 juga mengalami penurunan sekitar 58 persen atau mencapai 19.059 metrik ton.
Meskipun volume penjualan menurun, perseroan mencatatkan harga jual rata-rata
logam timah pada tahun 2021 sebesar USD 30.158 per metrik ton atau naik secara signifikan sekitar 79 persen.
Pada bulan yang sama tahun lalu harga jual rata-rata hanya USD 16.832 per metrik ton.
"Penurunan produksi bijih timah ini masih terkait dengan adanya pandemi covid-19 dan dinamika lainnya. Besarnya permintaan timah dari negara manufaktur di dunia diprediksi akan membuat harga logam timah masih bertahan di kisaran USD 30.000 sampai dengan akhir tahun 2021. Hal ini memberikan optimisme terhadap pencapaian kinerja TINS yang semakin memikat," ujar Abdullah.(Willy Widianto)
Adblock test (Why?)